Kamis, 28 April 2016

makalah al-makki wal madani



AL-MAKKI WAL MADANI
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ulumul Qur’an
Dosen Pengampu: Asep Purnama Bahtiar, S.Ag., M.Si.

 

Maskur Junaidi
20140730253

Fakultas Agama Islam
Jurusan Ekonomi Perbankan Islam 2014
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang...................................................................................................3
B.     Rumusan Masalah..............................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
A.   Definisi Makkiyah dan Madaniyyah.................................................................4
B.  Ciri-Ciri Makkiyah dan Madaniyyah............................................................... 10
C.  Contoh surah Makkiyah dan Madaniyyah...................................................12-13
BAB III PENUTUP
Kesimpulan............................................................................................................18








BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Para ulama terdahulu memberikan perhatian yang besar terhadap penyelidikan surah-surah Al-Qur’an. Mereka meneliti Al-Qur’an ayat demi ayat dan surah demi surah untuk diterbitkan sesuai dengan nuzulnya, dengan memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat. Bahkan lebih dari itu, mereka mengumpulkannya sesuai waktu, tempat dan pola kalimat. Cara demikian merupakan ketentuan cermat yang memberikan kepada peneliti objektif, gambaran mengenai penyelidikan ilmiah tentang ilmu Makki dan Madani.
Perhatian terhadap ilmu Al-Qur’an menjadi bagian yang terpenting bagi para ulama dibanding dengan ilmu- yang lain. Termasuk di dalamnya membahas tentang nuzulnya suatu ayat, tempat nuzulnya, urutan turunnya di Mekkah atau di Madinah serta tentang yang diturunkan di Mekkah tetapi termasuk kelompok Madani atau ayat yang diturunkan di Madinah tetapi termasuk dalam kategori Makki dan sebagainya. Hal ini menjadi persoalan penting untuk didiskusikan dalam rangka memperdalam ilmu-ilmu Al-Qur’an.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi Makkiyah dan Madaniyyah?
2.      Bagaimana ciri-ciri Makkiyah dan Madaniyyah?
3.      Apa saja contoh-contoh surah Makkiyah dan Madaniyyah?
BAB II
PEMBAHASAN

AYAT  MAKIYYAH DAN MADANIYYAH

A.      DEFINISI MAKIYYAH DAN MADANIYYAH
Kata Al-Makki berasal dari kata “Mekkah” dan Al-Madani berasal dari kata “Madinah”. Kedua kata tersebut telah dimasuki “ya” nisbah sehingga menjadi Al-Makkiy atau Al-Makkiyah dan Al-Madany atau Al-Madaniyyah. Secara harfiah, Al-Makki atau Al-Makkiyah berarti “yang bersifat Mekkah” atau “yang berasal dari Mekkah”. Sedangkan Al-Madaniy atau Al-Madaniyyah berarti “yang bersifat Madaniyyah” atau “yang berasal dari Madinah”. Maka ayat atau surah yang turun di Mekkah disebut dengan Al-Makkiyah dan yang diturunkan di Madinah disebut dengan Al-Madaniyyah.
Secara Istilah Makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah dan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah.1.
BEBERAPA PANDANGAN TENTANG MAKKIYAH DAN MADANIYAH
Menurut para ulama ilmu tafsir, Al-Qur'an dibagi menjadi dua pembahasan, yaitu Makkiyah dan Madaniyah. Artinya sebagai ayat lainnya adalah Madaniyah.          Dalam ilmu tafsir sendiri, ditemukan beberapa penafsiran mengenai istilah ini.

1.        Pendapat yang banyak di ikuti, yaitu bahwasannya penafsiran tersebut di susun atas dasar susunan waktu dari tahapan di turunkannya Al-Qur'an, dan Hijrah sebagai pemisah antara dua tahapan (marhalah) yang ada. Maka ayat-ayat Al-Qur'an yang di turunkan setelah Rusulullah SAW melakukan hijrah di sebut dengan ayat Madaniyah meskipun ayat-ayat tersebut turun di kota Mekkah. Contohnya adalah ayat yang turun kepada Rasulullah SAW di kota Mekkah pada waktu terjadi peristiwa penaklukan Mekkah (Fath al-makkah). Kesimpulannya yang menjadi patokan pembagian itu adalah masalah waktu, bukan masalah tempat.
2.        Pembagian yang di lakukan atas dasar pembagian tempat, sebagai tolak ukur untuk membedakan antara ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah. Maka setiap ayat yang menjadi perhatiannya adalah tempat ayat tersebut di turunkannya. Jika suatu ayat di turunkannya kepada Nabi Muhammad SAW sesdangkan beliau sedang berada di kota Mekkah, maka ayat itu di namakan ayat Makkiyah. Sedangkan jika ketika ayat itu di turunkan dan beliau sedangkan berada di kota Madinah, maka ayat tersebut di sebut ayat Madaniyah.
3.        Dengan melihat individu-individu yang menjadi objek di turunkannya Al-Qur'an. Atas dasar ini, maka sebuah ayat di katakan ayat Makkiyah jika ayat tersebut di tujukan bagi para penduduk Mekkah. Sebaiknya ayat Madaniyah adalah ayat yang di turunkan bagi para penduduk Madinah.

Pembagian pertama memiliki kelebihan dan keistimewaan jika di bandingkan dengan dua pembagian yang terakhir. Karena dengan sistem pembagian seperti poin yang pertama ini, maka seluruh ayat akan termasuk salah satu dari ayat Makkiyah dan Madaniyah. Karena jika kita menggunakan pembagian menurut pembagian waktu, maka seluruh ayat tidak ada yang keluar dari pembagian Makkiyah dan Madaniyah tersebut. Dengan sistem pembagian seperti itu, maka ayat yang turun sebelum Rasulullah SAW melakukan hijrah menuju Madinah akan di sebut sebagai ayat Makkiyah, adapun ayat ayat Al-Qur'an yang turun ketika beliau SAW sedang melakukan perjalanan hijrah dari Mekkah menuju Madinah atau setelah ia sampai di kota Madinah, maka ayat tersebut di sebut dengan ayat Madaniyah, dimana pun ayat itu di turunkan.
Adapun dengan pembagian kedua dan ketiga dalam istilah Makkiyah dan Madaniyah ini, maka kita akan mendapatkan suatu ayat yang tidak termasuk ayat Makkiyah dan ayat Madaniyah. Juga apabila ada ayat yang diturunkan tidak pada salah satu kota anatara Mekkah dan Madinah dan tujuan dari pembicaraan AL- Qur'an itu bukan penduduk Mekkah atau Madaniyah, seperti yang pernah turun pada Rasulullah SAW ketika beliau sedang melaksanakan perintah isra dan Mi'raj. Jika seperti itu adanya, maka akan terdapat ayat yang bukan termasuk Makkiyah dan Madaniyah.

KETENTUAN TENTANG PENDAPAT YANG PALING BAIK
Jika membandingkan 3 pendapat di atas, maka hendaknya memperhatikan poin yang ketiga, yang memang memiliki dasar yang salah, yaitu keyakinan bahwa dari ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur'an semuanya pasti ditunjukan khusus bagi para penduduk di kota Mekkah atau di kota Madinah.pendapat seperti itu adalah pendapat yang salah karena ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur'an adalah umum bagi siapa pun umat manusia di muka bumi ini. Ketika itu memang memiliki keterkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada penduduk kota Mekkah dan Madinah. Akan tetapi, bukanlah berarti Al-Qur'an yang berupa arahan, nasehat, maupun hukum syariat yang harus mereka laksanakan. Tetapi, pendapat yang benar adalah bahwa Al-Qur'an adalah umum bagi siapa pun selama lafadz dalam ayat tersebut memang umum bagi semua orang.
Kenyataannya bahwa Lafadz Makkiyah dan Madaniyah bukanlah Lafadz yang syar'i, yang pernah diistilahkan oelh Rasulullah SAW sendiri dan yang di perhatikan oleh beliau untuk kita temukan rahasia di balik istiah tersebut. Sama sekali bukan. Lafadz tersebut hanyalah sebuah istilah di definifikan oleh para ulama ahli tafsir.akan tetapi kita hanya berusaha untuk memberikan sebuah penjelasan bahwa pemberian definisi atas istilah Makkiyah da Madaniyah yang berdasarkan atas perhitungan waktu (zaman) sebagaimana yang di katakan oleh pendapat pertama adalah lebih baik dan lebih bermanfaat dalam rangka yang lebih mendalami ilmu Ulumul Qur'an. Perbedaan tersebut di dasarkan atas pembagian waktu antara ayat Al-Qur'an yang di turunkan sebelum dan sesudah hijrah memiliki urgensi yang lebih lanjut daripada pembedaan yang di dasarkan pada pembagian tempat yang membaginya antara ayat di turunkan di kota Mekkah dan yang di turunkan di kota Madinah. Pembagian yang di dasarkan pada perbedaan waktu yang membedakan anatar ayat Makkiyah dan Madinah lebih tepat di gunakan untuk mewujudkan tujuan di turunkannya Al-Qur'an itu sendiri.
Ketepatan cara pembagian Al-Qur'an yang berdasarkan waktu daripada yang menggunakan sisitem pembagian yang berdasarkan atas tempat dapat kita lihat dalam dua poin di bawah ini :
Pembagaian tersebut akan berkaitan erat dengan permasalahan fikih dan ilmi fikih.dengan pembagian yang menggunakan sistem perbedaan waktu, yaitu Makkiyah adalah yang diturunkan sebelum Rasul melakukan hijrah dan Madinah adalah yng diturunkan setelah beliau sampai di kota Madinah dalam pelaksanaan hijrah, maka pembagian ini akan membantu sekali dalam proses utnuk mengetahui lebih jauh permasalahan Nasikh dan Mansukh ayat-ayat dalam Al-Qur'an. Karena ayat yang Nasikh (yang menghapus) adalah ayat yang datang belakangan setelah ayat Mansukh (yang dihapus) diturunkan. Oleh sebab itu, maka ayat-ayat Madaniyah sudah bisa dopastikan sebagai ayat-ayat penghapus ayat-ayat Makkiyah yang berkedudukan sebagai yang dihapus (Mansukh), karena ayat Madaniyah diturunkan setelah ayat-ayat Makkiyah.

2.         Pembagian menggunakan sistem perbedaa zaman (waktu) untuk definisi Makkiyah dan Madaniyah akan membatu kita untuk mengetahui tingkatan dan tahapan-tahapan dakwah risalah islam yang dialami Rasulullah SAW. Karena perjalanan hijrah bukanlah shanya sekedar peristiwa bagian dari kehidupan dan keberlangsungan tetapi sebagai pembatas 2 tahapan dari umur dakwah itu sendiri, Yaitu periode dakwah di bawah lingkungan masyarakat yang dipimpin dan dikuasai oleh kepemimpinan dan kekuasaan kafir yang menguasai segena aspek politik,sosial,dan kebudayaan perode dakwah naungan Daulah Islamiyah. Sebenarnya 2 tahapan periode dakwah Rasulullah SAW dengan menggunakan sistem yaitu periode Makkiyah dan Madaniyah, jelasnya bahwa pembagian tersebut dasarnya yang berdasarkan  atas peristiwa hijrah.
CARA MENGETAHUI AYAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH
Para ahli tafsir membedakan antara ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah berdasarkan Riwayat-riwayat dan bukti-bukti berisikan sejarah surah dan ayat yang menunjukkan kapan diturunkannya, apakah sebelum Rasulullah SAW melakukan perjalanan hijrah ataukah sesudah hjirah. Mempelajari riwayat-riwayat dan bukti-bukti tersebut para ahli tafsir dapat mengetahui lebih jauh tentang berbagai surah dan ayat termasuk kesdalam Makkiyah dan Madaniyah serta mampu membedakan antara keduanya.
Setelah pengetahuan tentang hal tersebut mereka kuasai, mayoritas mereka beralih kepada ilmu perbandingan antara ayat-ayat dan surah-surah Makkiyah dan Madaniyah sejarah tentang keduanya telah mereka ketahui melalui bukti-bukti yang ada. Memperbandingkan antara keduanya, mereka akan dapat mengetahui ciri-ciri umum surah dan ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah .dari perbandingan ciri-ciri tersebut mereka membandingkan kembali seluruh ayat dan surah yang belum diketahui waktu diturunkannya dalam riwayat-riwayat dan nash-nash. Ciri-ciri umum yang dimiliki surah Makkiyah, maka mereka akan dimasukkan dalam kelompok Makkiyah. Dan sebaliknya bila ayat atau surah itu memiliki ciri umum yang mendekati Madaniyah , maka ia akan digolongkan dalam kelompok Madaniyah.


B.     CIRI-CIRI MAKKIYAH DAN MADANIYYAH
 Ciri-Ciri Dari Gaya Bahasa Dan Tema Surah-Surah Makkiyah :
a)        Ayat dan surah-surahnya pendek dan ringkas serta memiliki kesamaan cara penyampaian atau gaya bahasanya.
b)        Ayat atau surah-surahnya berisikan seruan tentang dasar-dasar keimanan kepada Allah SWT, masalah wahyu, alam ghaib, hari akhir, serta gambaran tentang surga dan neraka.
c)        Berisikan tentang seruan utnuk memegang teguh akhlaq al-karimah dan istiqamah dalam bentuk kebaikan.
d)       Berisikan tentang perlawanan terhadap kaum musyrik dan memberantas cita-cita mereka.
e)        Surah-surahnya banyak diawali kalimat "wahai manusia" dan tidak menggunakan kalimat "wahai orang-orang yang beriman.
            Ciri-Ciri Umum Surah Madaniyah :
a.         Susunan ayat dan surah-surahnya panjang.
b.        Bukti-bukti kebenaran dn dalil-dalil yang dipergunakan lebih mengutamakan kebenaran-kebenaran agama.
c.         Didalamnya berisikan tentang perlwanan terhadap ahlulkitab dan seruan kepada mereka agar tidak berlebih-lebihan dalam menjalankan syariat agama mereka.
d.        Banyak bercerita tentang orang-orang munafik dan probem-problem yang disebabkan karena mereka.
e.         Lebih banyak mengutarakan tentang sanksi-sanksi,hukum warisan, hak dan aturan-aturan politik, sosial dan negara.
KERAGUAN SEPUTAR MAKKIYAH DAN MADANIYAH
Perselisiahan dan keraguan itu sebenarnya didasarkan atas permasalahan bahwa perbedaan-perbedaan dan keistimewaan-keistimewaan yang ada pada kelompok surah Makkiyah dan Madaniyah yang ada pada Al-Qur'an membuat sebagian misionaris mempunyai keyakinan bahwa Al-Qur'an tunduk dan mengikuti kekuatan dan keadaan manusia yang beragam baik sosial maupun pisikologi memberikan pengaruh kepada gaya bahasa yang ada pada Al-Qur'an, cara-cara pemaparannya, kandungan isi dan tema-tema yang menjadi pembahasan dalam Al-Qur'an.
Mengenai pendapat yang memberikan pengaruh dan menolong dalam memahami pembahasan dan hasil dari pembahasan mengenai masalah keraguan seputar Al-Qur'an ini :
l  Pertama intinya menunjukan bahwa Al-Qur'an memiliki sifat manusiawi. Al-Qur'an dianggap berada pada tingkat kehidupan tertentu dan bagian dari lingkungan sosial mempengaruhi dan juga dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya.
l  Kedua tidak menunjukkan arti seperti itu karena Al-qur'an yang memiliki tujuan untuk mewujudkan suatu perubahan sosial secara tidak langsung akan memberikan pengaruh atas gaya bahasa suatu bangsa untuk mewujudkan tujuan Al-Qur'an itu sendiri.
Keraguan seputar permasalahan Makkiyah dan Madaniyah sebenarnya berkaitan secara sistematis dengan keraguan yang terjadi seputar permaslahan waktu, karena keraguan-keraguan itu berkaitan erat dengan pengingkaran terhadap wahyu. Untuk memperjelas hakikat yang sebenarnya.
Dua hal yang menyangkut keraguan tentang Makkiyah dan Madaniyah, yaitu gaya bahasa Al-Qur'an dan kedua berkaitan dengan materi dan tema yang dipaparkan oleh Al-Qur'an menyangkut permasalahan Makkiyah dan Madaniyah :
·         GAYA BAHASA AYAT-AYAT MAKKIYAH BERSIFAT TEGAS, KERAS DAN BERISI KEACAMAN TERHADAP KAUM KAFIR.
Gaya bahasa ayat Makkiyah memiliki keistimewaan dibanding gaya bahasa ayat Madaniyah, yakni berupa ketegasan dan gaya bahasa yang keras, bahkan dengan menggunakan gaya bahasa kecaman. Bahwa Nabi Muhammad memberikan pengaruh terhadap lingkungn di Mekkah, kota tempat tinggal beliau sendiri, karena penduduk kota Mekkah pada umumnya memiliki sifat yang keras dan jahiliyah. Oleh karena itu, gaya bahasa Al-Qur'an menjadi berubah ketika Nabi Muhammad berpindah kekota Madinah yang sebelumnya dipengaruhi oleh peradaban dan tradisi para Ahlulkitab.
C.   CONTOH-CONTOH SURAH MAKKIYAH DAN MADANIYYAH
·         Surah-surah dalam Al-Qur'an yang termasuk surah Makkiyah dan yang berisikan janji, ancaman dan kecaman adalah :
Ø  Surah Al-Masad
Ø  Surah Al-Ashar
Ø  Surah Al-Takatsur
Ø  Surah Al-Fajr
Ø  Dan Surah-surah lainnya.
·         GAYA BAHASA SURAH MAKKIYAH BERCIRIKAN KERINGKASAN TEKS SURAH-SURAH DAN AYAT-AYATNYA
Para misionaris mengataka bahwa surah-surah dan ayat-ayat Makkiyah bercirikan bahwa ayat-ayat dan surah-surahnya lebih pendek. Sebaliknya, Surah Madaniyah bercirikan lebih panjang dan terperinci sehingga surah-surah Makkiyah adalah surah-surah yang ringkas, sedangkan Surah Madaniyah adalah surah-surah yang panjang.
·         Contoh Surah-surah Madaniyyah.
Ø  Surah Al-Baqarah
Ø  Surah Ali-Imran
Ø  Surah An-Nisa
Ø  Serta surah-surah lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwasannya keterputusan hubungan antara kelompok Surah Makkiyah dan kelompok Madaniyah. Mereka juga mengatakan bahwa penjelasan di atas menunjukan bahwa kedua kelompok surah tersebut trpengaruh oleh lingkungan tempat Nabi Muhammad SAW hidup dan tinggal, yaitu masyarakat Mekkah yang ketka itu adalah masyarakatyang ummi (buta huruf) membuat Rasululah tidak mampu memberikan pemaparan berupa penjelasan tentang ajaran islam dan rinciannya secara detail. Akan tetapi, hanya pada masyarakat yang berperadaban dan telah maju sajalah, yang terdapat di kota Yastrinb (madinah), yang menyebabkan Nabi Muhammad SAW mampu memberikan penjelasan ajarannya secara terperinci.2.

FAEDAH MENGETAHUI SURAT MAKKIYYAH DAN MADANIYYAH.
1.    Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al-Qur’an, sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar.
2.    Meresapi gaya bahasa Al-Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah SWT, sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri.
3.    Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Al-Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik pada periode Mekkah maupun Madinah, sejak permulaan turun wahyuhingga ayat terakhir diturunkan.3.
Dalam Kelompok Surah Makkiyah Tidak Terdapat Ayat tentang Syariat dan Hukum-Hukum Tertentu.
1.    Bahwasanya kelompok surah Makiyyah tidak mengabaikan permasalahan syariat tetapi sebaliknya di dalam dasar-dasar ajaran yang umum terdapat tujuan dari agama islam ini.
2.    Untuk menafsirkan kenyataan bahwa kelompok surah Makiyyah tidak banyak menjelaskan tentang syariat dan perundang-undangan , kita mungkin dapat menafsirkannya dengan menggunakan sudut pandang lain yang memiliki keterkaitan asasi secara tematis dengan zhahir Al-Qur’an itu sendiri.

Kelompok Surah Makiyyah Tidak Berisikan Dalil Dan Bukti-Bukti Kebenaran
ü  Bahwasanya kelompok surah Makiyyah tidak kosong dari penjelasan mengenai dalil-dalil dan bukti-bukti . Artinya, kelompok surah Makiyyah berisikan dalil-dalildan bukti-bukti tentang kebenaran akidah dalam beberapa surahnya.
ü  Dalam menafsirkan  perbedaan antara kelompok surah Makiyyah dan surah Madaniyah ini, kita dapat menyandarkan pada kondisi dan suasana yang terjadi ketika melakukan aktivitas dakwah ketika itu.
Perbedaan-Perbedaan Hakiki Antara Ayat-Ayat Makiyyah Dan Madaniyah
1.      Kelompok surah Makiyyah memberikan solusi-solusi yang berkaitan dengan permasalahan syirik dan ateisme, yaitu dengan berasaskan pada psikologi dan sesuai dengan logika dan diwujudkan dengan akhlak yang mulia dan jiwa sosial yang tinggi.
2.      Al-Qur’an telah menegaskan bahwa pada alm ini terdapat keajaiban ciptaan Allah SWT untuk menunjukan keberadaan yang Maha Pencipta sebagai pengatur alam ini. Al-Qur’an juga menegaskan tentang alam ghaib, hari kebangkitan, pembalasan, wahyu, dan kenabian, lalu dikaitkan dengan dalil-dalil dan bukti-bukti.
3.      Al-Qur’an berbicara mengenai masalah akhlak dalam bentuk pengertian umum, dengan memperhatikan faktor eksternal dan cara penerapannya dalam masyarakat, serta berhati-hati dengan segala bentuk penyimpangan.
4.      Al-Qur’an menceritakan kisah para nabi, rasul dan kondisi-kondisi yang beragam yang pernah dihadapi oleh para nabi tersebut dari kaum dan umat mereka dalam rangka meneggakan keimanan dan memberantas kekafiran.
5.      Al-Qur’an menggunakan metode keindahan irama dan pemaparan yang singkat dalam menjelaskan ayat-ayat atau surah-surah lainnya.
1.      Penafsiran Yang Benar Untuk Membedakan Kelompok Surah Makiyyah Dan Madaniyah.
1.      Bahwa perbedaan yang ada antara keduanya bukan merupakan batas yang memisahkan, akantetapi perbedaan itu merupakan karakteristik khusus . Hal itu dapat kita buktikan dengan adanya keterkaitan gaya bahasa umum Al-Qur’an secara keseluruhan yang memiliki keistimewaan berupa perpaduan berbagai pemikiran dan pemahaman.
2.      Bahwa dakwah Islam dimulai di Mekkah selama tiga belas tahun lamanya. Waktu tersebut adalah waktu diturunkan Al-Qur’an yang dianggap sebagai waktu penanaman dasar-dasar, aturan-aturan dan pemahaman umum tentang akidah illahi, alam ghaib, akhlak dll.
3.      Proses perubahan sosial memerlukan perhatian khusus mengenai kondisi dan tabiat masyarakat yang menjadi objek perubahan tersebut juga memfokuskan perhatiannya terhadap berbagai persoalan pemikiran, politik, sosial, dan penyakit moral yang terjadi di masyarakat.


Ciri-ciri yang telah dijelaskan dalam pembahasan tentang perbedaan antara Makiyyah dan Madaniyah adalah sebagai berikut:
1.      Masyarakat Mekkah adalah masyarakat yang penih dengan kepercayaan ateis jika dilihat dari sisi akidah. Oleh karena itu, merupakan hal yang wajar jika Al-Qur’an pada waktu itu banyak menyinggung masalah perlawanan terhadap kemusyrikan, ateisme dan perdebatan yang panjang tentang gaya dan metode-metode yang bermacam-macam dalam menghadapi hal tersebut.
2.      Sebelumnya masyarakat Mekkah belum mempercayai pemikiran yang menyatakan bahwa Allah SWT adalah Esa. Mereka juga tidak mempercayai alam ghaib, hari kebangkitan, hari pembalasan, wahyu dan persoalan lainnya. Pemikiran-pemikiran diatas merupakan bagian dari kaidah asasi risalah dan akidah Islam.
3.      Kisah-kisah dalam Al-Qur’an bercerita tentang tema-tema dan persoalan-persoalan yang menyangkut kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa, alam ghaib, wahyu, akhlak, hari kebangkitan dan hari pembalasan.
4.      Al-Quran berkaitan dengan tahapan ddan sisi kemukjizatan, karena periode dakwah di mekkah menuntut dihancurkannya pemikiran-pemikiran jahiliyah yang telah tersebar pada masyarakat. Gaya bahasa yang keras tampaknya akan memberikan pengaruh positif dalam mengurangi kesulitan-kesultan dan menghancurkan perlawanan-perlawanan keras kaum jahiliyah.4.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
       Jadi dapat disimpulkan bahwa definisi Makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah dan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah. Kemudian ciri-ciri dari surah Makkiyah dan Madaniyyah salah satunya adalah bahwa Makkiyah surah-surahnya berisikan seruan tentang dasar-dasar keimanan kepada Allah SWT, masalah wahyu, alam ghaib, hari akhir, serta gambaran tentang surga dan neraka serta Madaniyyah ciri-cirinya adalah Banyak bercerita tentang orang-orang munafik dan probem-problem yang disebabkan karena mereka. Berikut Ini contoh-contoh surah Makkiyah adalah Surah Al-Masad, Surah Al-Ashar, Surah Al-Takatsur,Surah Al-Fajr,dan Surah-surah lainnya. Contoh-contoh surah Madaniyyah adalah Surah Al-Baqarah, Surah Ali-Imran, Surah An-Nisa, Serta surah-surah lainnya.







Catatan Kaki
1.Drs.Rosibon Anwar,M.Ag,Ulumul Qur’an untuk IAIN,STAIN,PTAIS.Pustaka setia, Bandung,2000,hlm 104.
2.M.Baqir Hakim, Ulumul Qur’an, Al-Huda, Jakarta, 2006, hlm 97-121
3. Manna’ Khalil Qattan,Studi Ilmu-Ilmu Qur’an.Litera antarnusa,Jakarta,1993, hlm 81
4. M.Baqir Hakim, Ulumul Qur’an, Al-Huda, Jakarta, 2006, hlm 123-132.

Daftar Pustaka
Anwar,Drs.Rosibon M.Ag.2000.Ulumul Quran untuk IAIN, STAIN, PTAIS. Bandung: Pustaka Setia.
Hakim,M.Baqir.2006.Ulumul Qur’an. Jakarta: Al-Huda.
Khalil Al-Qattan,Manna’.1973.Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Jakarta: Litera Antar Nusa