AL-MAKKI WAL MADANI
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ulumul Qur’an
Dosen Pengampu: Asep Purnama Bahtiar, S.Ag., M.Si.
Maskur Junaidi
20140730253
Fakultas Agama Islam
Jurusan Ekonomi Perbankan Islam 2014
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Daftar
Isi
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang...................................................................................................3
B.
Rumusan Masalah..............................................................................................3
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Definisi Makkiyah dan Madaniyyah.................................................................4
B.
Ciri-Ciri
Makkiyah dan Madaniyyah...............................................................
10
C.
Contoh surah
Makkiyah dan Madaniyyah...................................................12-13
BAB
III PENUTUP
Kesimpulan............................................................................................................18
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Para ulama terdahulu memberikan perhatian yang besar terhadap
penyelidikan surah-surah Al-Qur’an. Mereka meneliti Al-Qur’an ayat demi ayat
dan surah demi surah untuk diterbitkan sesuai dengan nuzulnya, dengan
memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat. Bahkan lebih dari itu, mereka
mengumpulkannya sesuai waktu, tempat dan pola kalimat. Cara demikian merupakan
ketentuan cermat yang memberikan kepada peneliti objektif, gambaran mengenai
penyelidikan ilmiah tentang ilmu Makki dan Madani.
Perhatian terhadap ilmu Al-Qur’an menjadi bagian yang terpenting
bagi para ulama dibanding dengan ilmu- yang lain. Termasuk di dalamnya membahas
tentang nuzulnya suatu ayat, tempat nuzulnya, urutan turunnya di Mekkah atau di
Madinah serta tentang yang diturunkan di Mekkah tetapi termasuk kelompok Madani
atau ayat yang diturunkan di Madinah tetapi termasuk dalam kategori Makki dan
sebagainya. Hal ini menjadi persoalan penting untuk didiskusikan dalam rangka
memperdalam ilmu-ilmu Al-Qur’an.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa definisi
Makkiyah dan Madaniyyah?
2.
Bagaimana
ciri-ciri Makkiyah dan Madaniyyah?
3.
Apa saja
contoh-contoh surah Makkiyah dan Madaniyyah?
BAB II
PEMBAHASAN
AYAT MAKIYYAH DAN MADANIYYAH
A.
DEFINISI
MAKIYYAH DAN MADANIYYAH
Kata Al-Makki berasal dari kata “Mekkah” dan Al-Madani berasal dari
kata “Madinah”. Kedua kata tersebut telah dimasuki “ya” nisbah sehingga menjadi
Al-Makkiy atau Al-Makkiyah dan Al-Madany atau Al-Madaniyyah. Secara harfiah,
Al-Makki atau Al-Makkiyah berarti “yang bersifat Mekkah” atau “yang berasal
dari Mekkah”. Sedangkan Al-Madaniy atau Al-Madaniyyah berarti “yang bersifat
Madaniyyah” atau “yang berasal dari Madinah”. Maka ayat atau surah yang turun
di Mekkah disebut dengan Al-Makkiyah dan yang diturunkan di Madinah disebut
dengan Al-Madaniyyah.
Secara Istilah
Makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah
dan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Rasulullah hijrah ke
Madinah.1.
BEBERAPA PANDANGAN TENTANG MAKKIYAH
DAN MADANIYAH
Menurut
para ulama ilmu tafsir, Al-Qur'an dibagi menjadi dua pembahasan, yaitu Makkiyah
dan Madaniyah. Artinya sebagai ayat lainnya adalah Madaniyah. Dalam ilmu tafsir sendiri, ditemukan
beberapa penafsiran mengenai istilah ini.
1.
Pendapat yang banyak di ikuti, yaitu bahwasannya penafsiran tersebut di
susun atas dasar susunan waktu dari tahapan di turunkannya Al-Qur'an, dan
Hijrah sebagai pemisah antara dua tahapan (marhalah) yang ada. Maka ayat-ayat Al-Qur'an yang di turunkan setelah Rusulullah SAW
melakukan hijrah di sebut dengan ayat Madaniyah meskipun ayat-ayat tersebut
turun di kota Mekkah. Contohnya adalah ayat yang turun kepada Rasulullah
SAW di kota Mekkah pada waktu terjadi peristiwa penaklukan Mekkah (Fath
al-makkah). Kesimpulannya yang menjadi patokan
pembagian itu adalah masalah waktu, bukan masalah tempat.
2.
Pembagian yang di lakukan atas dasar pembagian tempat, sebagai tolak
ukur untuk membedakan antara ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah. Maka setiap ayat
yang menjadi perhatiannya adalah tempat ayat tersebut di turunkannya. Jika suatu ayat di turunkannya kepada Nabi Muhammad SAW
sesdangkan beliau sedang berada di kota Mekkah, maka ayat itu di namakan ayat
Makkiyah. Sedangkan jika ketika ayat itu di turunkan dan beliau sedangkan
berada di kota Madinah, maka ayat tersebut di sebut ayat Madaniyah.
3.
Dengan melihat individu-individu yang menjadi objek di turunkannya
Al-Qur'an. Atas dasar ini, maka sebuah ayat di katakan
ayat Makkiyah jika ayat tersebut di tujukan bagi para penduduk Mekkah.
Sebaiknya ayat Madaniyah adalah ayat yang di turunkan bagi para penduduk
Madinah.
Pembagian pertama memiliki kelebihan dan
keistimewaan jika di bandingkan dengan dua pembagian yang terakhir. Karena
dengan sistem pembagian seperti poin yang pertama ini, maka seluruh ayat akan
termasuk salah satu dari ayat Makkiyah dan Madaniyah. Karena jika kita
menggunakan pembagian menurut pembagian waktu, maka seluruh ayat tidak ada yang
keluar dari pembagian Makkiyah dan Madaniyah tersebut. Dengan sistem pembagian
seperti itu, maka ayat yang turun sebelum Rasulullah SAW melakukan hijrah
menuju Madinah akan di sebut sebagai ayat Makkiyah, adapun ayat ayat Al-Qur'an
yang turun ketika beliau SAW sedang melakukan perjalanan hijrah dari Mekkah
menuju Madinah atau setelah ia sampai di kota Madinah, maka ayat tersebut di
sebut dengan ayat Madaniyah, dimana pun ayat itu di turunkan.
Adapun dengan pembagian kedua dan ketiga dalam
istilah Makkiyah dan Madaniyah ini, maka kita akan mendapatkan suatu ayat yang
tidak termasuk ayat Makkiyah dan ayat Madaniyah. Juga apabila ada ayat yang
diturunkan tidak pada salah satu kota anatara Mekkah dan Madinah dan tujuan
dari pembicaraan AL- Qur'an itu bukan penduduk Mekkah atau Madaniyah, seperti
yang pernah turun pada Rasulullah SAW ketika beliau sedang melaksanakan
perintah isra dan Mi'raj. Jika seperti itu adanya, maka akan terdapat ayat yang
bukan termasuk Makkiyah dan Madaniyah.
KETENTUAN
TENTANG PENDAPAT YANG PALING BAIK
Jika membandingkan 3 pendapat di atas, maka
hendaknya memperhatikan poin yang ketiga, yang memang memiliki dasar yang
salah, yaitu keyakinan bahwa dari ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur'an
semuanya pasti ditunjukan khusus bagi para penduduk di kota Mekkah atau di kota
Madinah.pendapat seperti itu adalah pendapat yang salah karena ayat-ayat yang
terdapat dalam Al-Qur'an adalah umum bagi siapa pun umat manusia di muka bumi
ini. Ketika itu memang memiliki keterkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang
terjadi pada penduduk kota Mekkah dan Madinah. Akan tetapi, bukanlah berarti
Al-Qur'an yang berupa arahan, nasehat, maupun hukum syariat yang harus mereka
laksanakan. Tetapi, pendapat yang benar adalah bahwa Al-Qur'an adalah umum bagi
siapa pun selama lafadz dalam ayat tersebut memang umum bagi semua orang.
Kenyataannya bahwa Lafadz Makkiyah dan
Madaniyah bukanlah Lafadz yang syar'i, yang pernah diistilahkan oelh Rasulullah
SAW sendiri dan yang di perhatikan oleh beliau untuk kita temukan rahasia di
balik istiah tersebut. Sama sekali bukan. Lafadz tersebut hanyalah sebuah
istilah di definifikan oleh para ulama ahli tafsir.akan tetapi kita hanya
berusaha untuk memberikan sebuah penjelasan bahwa pemberian definisi atas
istilah Makkiyah da Madaniyah yang berdasarkan atas perhitungan waktu (zaman)
sebagaimana yang di katakan oleh pendapat pertama adalah lebih baik dan lebih
bermanfaat dalam rangka yang lebih mendalami ilmu Ulumul Qur'an. Perbedaan
tersebut di dasarkan atas pembagian waktu antara ayat Al-Qur'an yang di
turunkan sebelum dan sesudah hijrah memiliki urgensi yang lebih lanjut daripada
pembedaan yang di dasarkan pada pembagian tempat yang membaginya antara ayat di
turunkan di kota Mekkah dan yang di turunkan di kota Madinah. Pembagian yang di
dasarkan pada perbedaan waktu yang membedakan anatar ayat Makkiyah dan Madinah
lebih tepat di gunakan untuk mewujudkan tujuan di turunkannya Al-Qur'an itu
sendiri.
Ketepatan cara pembagian Al-Qur'an yang
berdasarkan waktu daripada yang menggunakan sisitem pembagian yang berdasarkan
atas tempat dapat kita lihat dalam dua poin di bawah ini :
Pembagaian tersebut akan berkaitan erat dengan
permasalahan fikih dan ilmi fikih.dengan pembagian yang menggunakan sistem
perbedaan waktu, yaitu Makkiyah adalah yang diturunkan sebelum Rasul melakukan
hijrah dan Madinah adalah yng diturunkan setelah beliau sampai di kota Madinah
dalam pelaksanaan hijrah, maka pembagian ini akan membantu sekali dalam proses
utnuk mengetahui lebih jauh permasalahan Nasikh dan Mansukh ayat-ayat dalam
Al-Qur'an. Karena ayat yang Nasikh (yang menghapus) adalah ayat yang datang
belakangan setelah ayat Mansukh (yang dihapus) diturunkan. Oleh sebab itu, maka
ayat-ayat Madaniyah sudah bisa dopastikan sebagai ayat-ayat penghapus ayat-ayat
Makkiyah yang berkedudukan sebagai yang dihapus (Mansukh), karena ayat
Madaniyah diturunkan setelah ayat-ayat Makkiyah.
2. Pembagian menggunakan sistem perbedaa zaman (waktu) untuk definisi Makkiyah dan Madaniyah akan membatu kita untuk mengetahui tingkatan dan tahapan-tahapan dakwah risalah islam yang dialami Rasulullah SAW. Karena perjalanan hijrah bukanlah shanya sekedar peristiwa bagian dari kehidupan dan keberlangsungan tetapi sebagai pembatas 2 tahapan dari umur dakwah itu sendiri, Yaitu periode dakwah di bawah lingkungan masyarakat yang dipimpin dan dikuasai oleh kepemimpinan dan kekuasaan kafir yang menguasai segena aspek politik,sosial,dan kebudayaan perode dakwah naungan Daulah Islamiyah. Sebenarnya 2 tahapan periode dakwah Rasulullah SAW dengan menggunakan sistem yaitu periode Makkiyah dan Madaniyah, jelasnya bahwa pembagian tersebut dasarnya yang berdasarkan atas peristiwa hijrah.
CARA
MENGETAHUI AYAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH
Para ahli tafsir membedakan antara ayat-ayat
Makkiyah dan Madaniyah berdasarkan Riwayat-riwayat dan bukti-bukti berisikan
sejarah surah dan ayat yang menunjukkan kapan diturunkannya, apakah sebelum
Rasulullah SAW melakukan perjalanan hijrah ataukah sesudah hjirah. Mempelajari
riwayat-riwayat dan bukti-bukti tersebut para ahli tafsir dapat mengetahui
lebih jauh tentang berbagai surah dan ayat termasuk kesdalam Makkiyah dan
Madaniyah serta mampu membedakan antara keduanya.
Setelah pengetahuan tentang hal tersebut mereka
kuasai, mayoritas mereka beralih kepada ilmu perbandingan antara ayat-ayat dan
surah-surah Makkiyah dan Madaniyah sejarah tentang keduanya telah mereka
ketahui melalui bukti-bukti yang ada. Memperbandingkan antara keduanya, mereka
akan dapat mengetahui ciri-ciri umum surah dan ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah
.dari perbandingan ciri-ciri tersebut mereka membandingkan kembali seluruh ayat
dan surah yang belum diketahui waktu diturunkannya dalam riwayat-riwayat dan
nash-nash. Ciri-ciri umum yang dimiliki surah Makkiyah, maka mereka akan
dimasukkan dalam kelompok Makkiyah. Dan sebaliknya bila ayat atau surah itu
memiliki ciri umum yang mendekati Madaniyah , maka ia akan digolongkan dalam
kelompok Madaniyah.
B. CIRI-CIRI MAKKIYAH DAN MADANIYYAH
Ciri-Ciri Dari Gaya Bahasa Dan Tema
Surah-Surah Makkiyah :
a)
Ayat dan surah-surahnya pendek dan ringkas serta memiliki kesamaan cara
penyampaian atau gaya bahasanya.
b)
Ayat atau surah-surahnya berisikan seruan tentang dasar-dasar keimanan
kepada Allah SWT, masalah wahyu, alam ghaib, hari akhir, serta gambaran tentang
surga dan neraka.
c)
Berisikan tentang seruan utnuk memegang teguh akhlaq al-karimah dan
istiqamah dalam bentuk kebaikan.
d)
Berisikan tentang perlawanan terhadap kaum musyrik dan memberantas
cita-cita mereka.
e)
Surah-surahnya banyak diawali kalimat "wahai manusia" dan
tidak menggunakan kalimat "wahai orang-orang yang beriman.
Ciri-Ciri Umum Surah Madaniyah :
a.
Susunan ayat dan surah-surahnya panjang.
b.
Bukti-bukti kebenaran dn dalil-dalil yang dipergunakan lebih
mengutamakan kebenaran-kebenaran agama.
c.
Didalamnya berisikan tentang perlwanan terhadap ahlulkitab dan seruan
kepada mereka agar tidak berlebih-lebihan dalam menjalankan syariat agama
mereka.
d.
Banyak bercerita tentang orang-orang munafik dan probem-problem yang
disebabkan karena mereka.
e.
Lebih banyak mengutarakan tentang sanksi-sanksi,hukum warisan, hak dan
aturan-aturan politik, sosial dan negara.
KERAGUAN SEPUTAR MAKKIYAH DAN MADANIYAH
Perselisiahan dan keraguan itu sebenarnya
didasarkan atas permasalahan bahwa perbedaan-perbedaan dan
keistimewaan-keistimewaan yang ada pada kelompok surah Makkiyah dan Madaniyah
yang ada pada Al-Qur'an membuat sebagian misionaris mempunyai keyakinan bahwa
Al-Qur'an tunduk dan mengikuti kekuatan dan keadaan manusia yang beragam baik
sosial maupun pisikologi memberikan pengaruh kepada gaya bahasa yang ada pada
Al-Qur'an, cara-cara pemaparannya, kandungan isi dan tema-tema yang menjadi
pembahasan dalam Al-Qur'an.
Mengenai pendapat yang memberikan pengaruh dan
menolong dalam memahami pembahasan dan hasil dari pembahasan mengenai masalah
keraguan seputar Al-Qur'an ini :
l Pertama intinya menunjukan bahwa Al-Qur'an
memiliki sifat manusiawi. Al-Qur'an dianggap berada pada tingkat kehidupan
tertentu dan bagian dari lingkungan sosial mempengaruhi dan juga dipengaruhi
oleh lingkungan sosialnya.
l Kedua tidak menunjukkan arti seperti itu karena
Al-qur'an yang memiliki tujuan untuk mewujudkan suatu perubahan sosial secara
tidak langsung akan memberikan pengaruh atas gaya bahasa suatu bangsa untuk
mewujudkan tujuan Al-Qur'an itu sendiri.
Keraguan seputar permasalahan Makkiyah dan
Madaniyah sebenarnya berkaitan secara sistematis dengan keraguan yang terjadi
seputar permaslahan waktu, karena keraguan-keraguan itu berkaitan erat dengan
pengingkaran terhadap wahyu. Untuk memperjelas hakikat yang sebenarnya.
Dua hal yang menyangkut keraguan tentang
Makkiyah dan Madaniyah, yaitu gaya bahasa Al-Qur'an dan kedua berkaitan dengan
materi dan tema yang dipaparkan oleh Al-Qur'an menyangkut permasalahan Makkiyah
dan Madaniyah :
·
GAYA BAHASA AYAT-AYAT MAKKIYAH BERSIFAT TEGAS, KERAS DAN BERISI
KEACAMAN TERHADAP KAUM KAFIR.
Gaya bahasa ayat Makkiyah memiliki keistimewaan
dibanding gaya bahasa ayat Madaniyah, yakni berupa ketegasan dan gaya bahasa
yang keras, bahkan dengan menggunakan gaya bahasa kecaman. Bahwa Nabi Muhammad
memberikan pengaruh terhadap lingkungn di Mekkah, kota tempat tinggal beliau
sendiri, karena penduduk kota Mekkah pada umumnya memiliki sifat yang keras dan jahiliyah. Oleh karena itu, gaya bahasa Al-Qur'an menjadi
berubah ketika Nabi Muhammad berpindah kekota Madinah yang sebelumnya
dipengaruhi oleh peradaban dan tradisi para Ahlulkitab.
C. CONTOH-CONTOH SURAH MAKKIYAH DAN MADANIYYAH
·
Surah-surah dalam Al-Qur'an yang termasuk surah Makkiyah dan yang
berisikan janji, ancaman dan kecaman adalah :
Ø Surah Al-Masad
Ø Surah Al-Ashar
Ø Surah Al-Takatsur
Ø Surah Al-Fajr
Ø Dan Surah-surah lainnya.
·
GAYA BAHASA SURAH MAKKIYAH BERCIRIKAN KERINGKASAN TEKS SURAH-SURAH DAN
AYAT-AYATNYA
Para misionaris mengataka bahwa surah-surah dan
ayat-ayat Makkiyah bercirikan bahwa ayat-ayat dan surah-surahnya lebih pendek.
Sebaliknya, Surah Madaniyah bercirikan lebih panjang dan terperinci sehingga
surah-surah Makkiyah adalah surah-surah yang ringkas, sedangkan Surah Madaniyah
adalah surah-surah yang panjang.
·
Contoh Surah-surah Madaniyyah.
Ø Surah Al-Baqarah
Ø Surah Ali-Imran
Ø Surah An-Nisa
Ø Serta surah-surah lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwasannya keterputusan
hubungan antara kelompok Surah Makkiyah dan kelompok Madaniyah. Mereka juga
mengatakan bahwa penjelasan di atas menunjukan bahwa kedua kelompok surah
tersebut trpengaruh oleh lingkungan tempat Nabi Muhammad SAW hidup dan tinggal,
yaitu masyarakat Mekkah yang ketka itu adalah masyarakatyang ummi (buta huruf)
membuat Rasululah tidak mampu memberikan pemaparan berupa penjelasan tentang
ajaran islam dan rinciannya secara detail. Akan tetapi, hanya pada masyarakat
yang berperadaban dan telah maju sajalah, yang terdapat di kota Yastrinb
(madinah), yang menyebabkan Nabi Muhammad SAW mampu memberikan penjelasan ajarannya secara terperinci.2.
FAEDAH MENGETAHUI SURAT
MAKKIYYAH DAN MADANIYYAH.
1.
Untuk dijadikan
alat bantu dalam menafsirkan Al-Qur’an, sebab pengetahuan mengenai tempat turun
ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran
yang benar.
2.
Meresapi gaya
bahasa Al-Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah
SWT, sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri.
3.
Mengetahui
sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Al-Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada
Rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik pada
periode Mekkah maupun Madinah, sejak permulaan turun wahyuhingga ayat terakhir
diturunkan.3.
Dalam Kelompok
Surah Makkiyah Tidak Terdapat Ayat tentang Syariat dan Hukum-Hukum Tertentu.
1.
Bahwasanya
kelompok surah Makiyyah tidak mengabaikan permasalahan syariat tetapi
sebaliknya di dalam dasar-dasar ajaran yang umum terdapat tujuan dari agama
islam ini.
2.
Untuk
menafsirkan kenyataan bahwa kelompok surah Makiyyah tidak banyak menjelaskan
tentang syariat dan perundang-undangan , kita mungkin dapat menafsirkannya
dengan menggunakan sudut pandang lain yang memiliki keterkaitan asasi secara
tematis dengan zhahir Al-Qur’an itu sendiri.
Kelompok Surah
Makiyyah Tidak Berisikan Dalil Dan Bukti-Bukti Kebenaran
ü Bahwasanya kelompok surah Makiyyah tidak kosong dari penjelasan
mengenai dalil-dalil dan bukti-bukti . Artinya, kelompok surah Makiyyah
berisikan dalil-dalildan bukti-bukti tentang kebenaran akidah dalam beberapa
surahnya.
ü Dalam menafsirkan perbedaan
antara kelompok surah Makiyyah dan surah Madaniyah ini, kita dapat menyandarkan
pada kondisi dan suasana yang terjadi ketika melakukan aktivitas dakwah ketika
itu.
Perbedaan-Perbedaan
Hakiki Antara Ayat-Ayat Makiyyah Dan Madaniyah
1.
Kelompok surah
Makiyyah memberikan solusi-solusi yang berkaitan dengan permasalahan syirik dan
ateisme, yaitu dengan berasaskan pada psikologi dan sesuai dengan logika dan
diwujudkan dengan akhlak yang mulia dan jiwa sosial yang tinggi.
2.
Al-Qur’an telah
menegaskan bahwa pada alm ini terdapat keajaiban ciptaan Allah SWT untuk
menunjukan keberadaan yang Maha Pencipta sebagai pengatur alam ini. Al-Qur’an
juga menegaskan tentang alam ghaib, hari kebangkitan, pembalasan, wahyu, dan
kenabian, lalu dikaitkan dengan dalil-dalil dan bukti-bukti.
3.
Al-Qur’an
berbicara mengenai masalah akhlak dalam bentuk pengertian umum, dengan
memperhatikan faktor eksternal dan cara penerapannya dalam masyarakat, serta
berhati-hati dengan segala bentuk penyimpangan.
4.
Al-Qur’an
menceritakan kisah para nabi, rasul dan kondisi-kondisi yang beragam yang
pernah dihadapi oleh para nabi tersebut dari kaum dan umat mereka dalam rangka
meneggakan keimanan dan memberantas kekafiran.
5.
Al-Qur’an
menggunakan metode keindahan irama dan pemaparan yang singkat dalam menjelaskan
ayat-ayat atau surah-surah lainnya.
1.
Penafsiran Yang
Benar Untuk Membedakan Kelompok Surah Makiyyah Dan Madaniyah.
1.
Bahwa perbedaan
yang ada antara keduanya bukan merupakan batas yang memisahkan, akantetapi
perbedaan itu merupakan karakteristik khusus . Hal itu dapat kita buktikan
dengan adanya keterkaitan gaya bahasa umum Al-Qur’an secara keseluruhan yang
memiliki keistimewaan berupa perpaduan berbagai pemikiran dan pemahaman.
2.
Bahwa dakwah
Islam dimulai di Mekkah selama tiga belas tahun lamanya. Waktu tersebut adalah
waktu diturunkan Al-Qur’an yang dianggap sebagai waktu penanaman dasar-dasar,
aturan-aturan dan pemahaman umum tentang akidah illahi, alam ghaib, akhlak dll.
3.
Proses
perubahan sosial memerlukan perhatian khusus mengenai kondisi dan tabiat
masyarakat yang menjadi objek perubahan tersebut juga memfokuskan perhatiannya
terhadap berbagai persoalan pemikiran, politik, sosial, dan penyakit moral yang
terjadi di masyarakat.
Ciri-ciri yang
telah dijelaskan dalam pembahasan tentang perbedaan antara Makiyyah dan
Madaniyah adalah sebagai berikut:
1.
Masyarakat
Mekkah adalah masyarakat yang penih dengan kepercayaan ateis jika dilihat dari
sisi akidah. Oleh karena itu, merupakan hal yang wajar jika Al-Qur’an pada
waktu itu banyak menyinggung masalah perlawanan terhadap kemusyrikan, ateisme
dan perdebatan yang panjang tentang gaya dan metode-metode yang bermacam-macam
dalam menghadapi hal tersebut.
2.
Sebelumnya masyarakat
Mekkah belum mempercayai pemikiran yang menyatakan bahwa Allah SWT adalah Esa.
Mereka juga tidak mempercayai alam ghaib, hari kebangkitan, hari pembalasan,
wahyu dan persoalan lainnya. Pemikiran-pemikiran diatas merupakan bagian dari
kaidah asasi risalah dan akidah Islam.
3.
Kisah-kisah
dalam Al-Qur’an bercerita tentang tema-tema dan persoalan-persoalan yang
menyangkut kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa, alam ghaib, wahyu, akhlak,
hari kebangkitan dan hari pembalasan.
4.
Al-Quran
berkaitan dengan tahapan ddan sisi kemukjizatan, karena periode dakwah di
mekkah menuntut dihancurkannya pemikiran-pemikiran jahiliyah yang telah
tersebar pada masyarakat. Gaya bahasa yang keras tampaknya akan memberikan
pengaruh positif dalam mengurangi kesulitan-kesultan dan menghancurkan
perlawanan-perlawanan keras kaum jahiliyah.4.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Jadi
dapat disimpulkan bahwa definisi Makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan
sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah dan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang
diturunkan sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah. Kemudian
ciri-ciri dari surah Makkiyah dan Madaniyyah salah satunya adalah bahwa Makkiyah
surah-surahnya berisikan seruan tentang
dasar-dasar keimanan kepada Allah SWT, masalah wahyu, alam ghaib, hari akhir,
serta gambaran tentang surga dan neraka
serta Madaniyyah ciri-cirinya adalah Banyak bercerita tentang orang-orang munafik dan probem-problem yang
disebabkan karena mereka. Berikut Ini
contoh-contoh surah Makkiyah adalah Surah Al-Masad, Surah Al-Ashar, Surah Al-Takatsur,Surah
Al-Fajr,dan Surah-surah lainnya. Contoh-contoh surah Madaniyyah adalah Surah Al-Baqarah, Surah Ali-Imran, Surah
An-Nisa, Serta surah-surah lainnya.
Catatan
Kaki
1.Drs.Rosibon
Anwar,M.Ag,Ulumul Qur’an untuk IAIN,STAIN,PTAIS.Pustaka setia, Bandung,2000,hlm
104.
2.M.Baqir Hakim,
Ulumul Qur’an, Al-Huda, Jakarta, 2006, hlm 97-121
3. Manna’ Khalil
Qattan,Studi Ilmu-Ilmu Qur’an.Litera antarnusa,Jakarta,1993, hlm 81
4. M.Baqir
Hakim, Ulumul Qur’an, Al-Huda, Jakarta, 2006, hlm 123-132.
Daftar
Pustaka
Anwar,Drs.Rosibon
M.Ag.2000.Ulumul Quran untuk IAIN, STAIN, PTAIS. Bandung: Pustaka Setia.
Hakim,M.Baqir.2006.Ulumul
Qur’an. Jakarta: Al-Huda.
Khalil
Al-Qattan,Manna’.1973.Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Jakarta: Litera Antar Nusa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar